Pengalaman Yang Tak Terlupakan
oleh : Lidya Veronica
Dalam perjalanan live in ke Jogja saya sangat berdebar-debar memikirkan tempat seperti apa yang akan saya tenpati di sana. Dalam bayangan saya, saya berfikir bahwa tempat tersebut berada di pelosok desa yang belum terdapat listrik, air, dan jika ingin mandi harus jalan ke sungai dan mandi dengan menggunakan kain. Ketika sampai di daerah Kulon Progo, Jogjakarta, kami pun berkenalan dengan induk semang di sana. Kemudian saya dan teman saya diantar pulang ke rumah induk semang. Saya tinggal di rumah Bapak Sarimin dan Ibu Sri. Ketika sampai di rumah saya melihat-lihat halaman sekitar rumah. Saya bersyukur karena rumah yang saya tempati ternyata sudah ada listrik, air yang cukup sehingga saya tidak perlu bersusah-susah mengambil air untuk mandi seperti teman-teman saya yang lain. Tapi satu hal yang membuat saya sedih adalah rumah yang saya tempati adalah rumah yang lokasi nya paling jauh dari rumah teman-teman saya. Jika ingin bertemu dengan teman-teman, saya harus berjalan kurang lebih 2 km. Meskipun kadang-kadang saya merasa lelah karena harus jalan sejauh itu, tapi sangat merasa senang ketika bertemu dengan teman-teman. Bahkan saya pernah berjalan hingga 10 km dalam sehari, karena saya bolak-balik ke rumah teman saya. Meskipun rumah penduduk di sana jaraknya lumayan jauh, tapi mereka sangat rukun dan dekat satu sama yang lain. Mereka selalu bergotong royong dalam banyak hal. Ini yang membuat saya salut. Sungguh, perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan masyarakat Jakarta yang tidak peduli antara satu dengan yang lain. Ketika 17 Agustusan desa ini mengadakan berbagai macam lomba. Masyarakat KulonProgo sangat antusias dalam mengikuti perlombaan. Bahkan teman-teman saya juga turut memeriahkan acara 17 Agustusan dengan mengikuti perlombaan panjat gedebong pisang. Meskipun akhirnya teman-teman saya kalah, saya sangat senang karena suasana kekeluargaan sangat tampak dalam perlombaan ini.
Ketika live in, banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan. Selama ini saya belum berdekatan bahkan memberi makan kambing. Tetapi saat live in saya memberi makan kambing dan berfoto dengan kambing-kambing sasat berada di pasar kambing.
Kemudian Bapak Sarimin mengajarkan saya menebar benih Pohon Alpesia. Pohon ini mesti ditanam hingga 6 tahun baru batangnya bisa digunakan untuk membuat papan, triplek atau kertas. Cara menanam pohon ini sangat mudah. Biasanya bapak membali bibitnya di pasar. Kemudian bibit tersebut diseduh dengan air panas, setelah itu dibilas dengan air dingin dan dibiarkan selama 3 hari hingga bibit tersebut keluar tunasnya. Setelah tunasnya keluar, kemudian bibit tersebut dimasukkan ke dalam pupuk yang telah disiapkan berkantung-kantung. Pupuk tersebut dibuat dari campuran tanah dan kotoran kambing yang dipecahkan. Pertamam kali saya memang merasa sedikit jijik saat memasukkan bibit tersebut ke dalam tanah yang sudah bercampur dengan kotoran kambing. Tapi lama-kelamaan saya biasa saja.
Satu hal yang tidak bisa saya lupakan pada saat itu adalah kebaikan keluarga saya yang di sana. Bapak dan Ibu yang telah menjaga saya dan Cynthia yang sama protektifnya dengan orang tua kandung saya. Serta keramahan orang-orang di sana yang membuat saya terharu dan sedih ketika harus pulang ke Jakarta. Saya ingin suatu saat saya bisa datang lagi ke sana dan berkunjung ke orang tua angkat saya di sana.
Inilah pengalaman yang saya dapatkan ketika live in, semoga dapat memberikan inspirasi kepada yang membaca dan dapat berguna bagi orang lain.




